KAITAN ANTARA LITERASI SAINS DAN PEMBELAJARAN BERBASIS MITGASI BENCANA
PADA PEMBELAJARAN IPA SD
Choirul Hafis*, Kardiman*
Progam Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Muhammadiyah Purworejo
Email : hafisxma@gmail.com
Abstrak
Literasi sains adalah kemampuan individu untuk dapat mengidebtifikasi fakta sains, menggunakan metode penyelidikan yang sesuai untuk memperoleh bukti-bukti ilmiah yang dibutuhkan serta kemampuan untuk menganalisis dan menginterpretasikan bukti-bukti tersebut sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang berarti. Literasi sains merupakan salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia yang membutuhkan perhatian untuk segera diatasi. Mitigasi bencana adalah serangkaian serangkaian upaya mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Untuk mengetahui kaitan antara pembelajaran berbasis mitigasi bencana dan literasi sains. Sehingga siswa diharapkan mampu menerapkan literasi sains dan pembelajaran berbasis mitigasi bencana.
Kata Kunci : Literasi sains, Mitigasi bencana, IPA
Abstrack
Science literacy is the ability of individuals to be able to identify facts of science, using the appropriate approval method to obtain the necessary scientific evidence and the ability to analyze and interpret the evidence that can be obtained from the evidence. Science literacy is one of the problems of education in Indonesia that needs attention to be immediately addressed. Disaster mitigation is an increase in efforts to increase disaster risk. To learn to think between learning based on disaster mitigation and literacy. Learning students are expected to be able to apply literacy and learning based on disaster mitigation.
Keywords : Science literacy, Disaster mitigation, IPA
PENDAHULUAN
Pendidikan sains berperan penting untuk menciptakan generasi muda yang handal dan berkualitas dalam menghadapi tantangan era globalisasi. Kemampuan literasi sains dapat didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk dapat mengidentifikasi yang termasuk fakta sains, menggunakan metode penyelidikan yang sesuia untuk memperoleh bukti-bukti ilmiah yang dibutuhkan serta kemampuan untuk menganalisis dan menginterpretasikan bukti-bukti tersebut sehingga diperoleh kesimpulan yang berarti.
Literasi sains merupakan salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia yang membutuhkan perhatian untuk segera diatasi. Kemampuan literasi sains di Indonesia masih rendah. Rendahnya kemampuan literasi sains peserta didik ditandai dengan masih lemah dalam penguasaan konten, proses, konteks, dan sikap terhadap fenomena sains. Literasi sains yang rendah akan memberikan dampak buruk kepada generasi berikutnya. Hal ini disebabkan peserta didik tidak bisa mengambil keputusan penting terkait kelestarian alam. Oleh sebab itu kita tidak akan dapat memelihara alam itu sendiri sehingga bencana alam diprediksikan akan terus meningkat.
Oleh sebab itu, perlu adanya kurikulum yang mengimplementasikan pelajaran yang dekat dengan lingkungan peserta didik, kemudian meluas ke masalah yang lebih umum. Ini diharapkan agar peserta didik mampu menyelesaikan permasalahan lokal disekitarnya. Seperti misalnya peserta yang berada di kawasan rawan bencana, ketika belajar mengenai bencana, sekolah dan lingkungan sekitarnya sebaiknya mendapatkan pemahaman yang mendalam, termasuk cara mengantisipasi ketika terjadi bencana dan mengatasi pasca bencana.
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian yang mengancam dan mengganngu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disesbabkan, baik faktor alam dan faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana berdasarkan sumbernya dibagi menjadi tiga, yaitu; bencana alam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa / serangkaian peristiwa oleh alam, bencana non alam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa / serangkaian peristiwa non alam, bencana sosial, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa / serangkaian peristiwa oleh manusia. Bencana alam juga dapat dikelompokkan sebagai berikut; bencana alam meteorologi berhubungan dengan iklim. Umumnya tidak terjadi pada satu tempat yang khusus dan bencana alam geologo adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti gempa bumi, tsunami, dan longsor.
Penyebab bencana alam di Indonesia yaitu posisi geografis yang diapit oleh dua samudra besar, posisi geologis Indonesia pada tiga lempeng utama dunia (Indo-Australia, Eurasia, Pasifik), dan kondisi permukaan wilayah Indonesia yang sangat beragam. Sehingga diperlukan pencegahan bbencana atau mitigasi bencana. Mitigasi bencana adalah seangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melaluia pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Tujuan mitigasi bencana yaitu; mengurangi dampak yang ditimbulkan, sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan pembanngunan, meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadap serta mengurangi dampak/risiko bencana, sehingga masyarakatdapat hidup dan bekerja dengan aman.
Ilmu pengetahuan alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan yang dikaitkan dengan fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik. Pada hakekatnya IPA dipandang dari segi produk, proses dan dari segi pengembangan sikap. Artinya belajar IPA memilki dimensi proses, dimensi hasil (produk) dan dimensi pengembangan sikap ilmiah. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikan sebagai aspek penting kecakapan hidup.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Literasi sains merupakan tujuan pendidikan sains. Kemampuan literasi sains menjadi salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia yang membutuhkan perhatian untuk segera diatasi. Kemampuan literasi sains di Indonesia masih rendah. Rendahnya kemampuan literasi sains peserta didik ditandai dengan masih lemah dalam penguasaan konten, proses, konteks, dan sikap terhadap fenomena sains. Literasi sains yang rendah akan memberikan dampak buruk kepada generasi berikutnya. Hal ini disebabkan peserta didik tidak bisa mengambil keputusan penting terkait kelestarian alam. Oleh sebab itu kita tidak akan dapat memelihara alam itu sendiri sehingga bencana alam diprediksikan akan terus meningkat. Definisi literasi sains adalah sebagai kemampuan individu untuk dapat mengidentifikasi yang termasuk fakta sains, menggunakan metode penyelidikan yang sesuia untuk memperoleh bukti-bukti ilmiah yang dibutuhkan serta kemampuan untuk menganalisis dan menginterpretasikan bukti-bukti tersebut sehingga diperoleh kesimpulan yang berarti.
Literasi sains mencangkup 4 aspek yaitu: (a) pengetahuan tentang ilmu pengetahuan, (b) sifat investigasi ilmu pengetahuan, (c) ilmu sebagai cara untuk mengetahui dan (d) interasksi ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat. PISA mendefinisikan literasi sains dengn ciri yang terdiri dari empat aspek yang saling terkait, yaitu konteks, pengetahuan, kompetensi, dan sikap. Terdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam menilai tingkatan literasi sains. Pertama, penilaian literasi sains tidak ditujukan untuk membedakan seorang literasi sains atau tidak. Kedua, pencapaian literasi sains merupakan proses kontinu dan terus menerus berkembang sepanjang hidup manusia.
Dimensi literasi sains yang dipaparkan oleh PISA adalah sebagai berikut: (a) konteks, definisi modern tentang litersi sains menekankan pentinya mengenal dan memahmi konteks aplikasi sains, serta mampu mengaplikasikan sains dalam memcahkan masalah nyata yang dihadapinya, baik yang terkait pada pribadi anak, komunitas lokal tempat anak berada, maupun kehidupan muka bumi secara lebig global. PISA membagi bidang aplikasi sains ke dalam tiga kelompok berikut; (1) kehidupan dan kesehatan, (2) bumi dan lingkungan, dan (3) teknologi. (b) kompetensi, kompetensi yang dimaksud oleh PISA adalah menjelaskan fenomena ilmiah, mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmah,dan menafsirkan data dan bukti ilmiah. Berikut penjelasan lebih lanjut menurut PISA. (1) menjelaskan fenomena ilmiah, (2) mengevaluas dan merancang penyelidika ilmiah, (3) menafsirkan data dan bukti ilmiah. (c) pengetahuan ilimiah, pengetahuan ilmiah terdapat tiga kompetensi yang dibutuhkan untuk literasi sains untuk membentuk pengetahuan yaitu pengetahuan konten, pengetahuan prosedural dan pengetahuan epistemic. (d) sikap, sikap yang dimaksud adalah mengevaluasi sikap terhadap ilmu pengetahuan dalam tiga bidang, seperti minat sains, menilai pendekatan ilmiah dan kesadaran lingkungan. (1) minat sains meliputi, rasa ingin tahu dalam ilmu dan masalah imu, kesediaan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah tambahan dan keterampilan menggunakan berbagai sumber daya dan metode, minat dalam sains termasuk peryimbangan karir ilmu yang berhubungan.(2) menilai pedekatan meliputi, bukti sebagai dasar keyakinan untuk penjeasan materi dunia, pendekatan ilmiah untuk penyelidikan, valuing kritik sebagai sarana membangun validitas ide. (3) kesadaran ligkungan meliputi, kepedulian terhadap lingkungan dan hidup berkelanjutan, disposisi unuk mengambil dan mempromosikan perilaku ramah lingkungan.
Manajemen bencana merupakan aspek perencanaan dan penanggulangan bencana sbelum, saat, dan sesudah terjadi bencana, yang dikenal sebagai SBM (siklus manajemen bencana), yang bertujuan untuk: mencegah kehilangan jiwa; mengurang penderitaan manusia; memberi informasi kepada masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko; serta mengurangi kerusakan infrasruktur utama, harta benda, dan kehilangan sumber ekonomi. Secara umum, kegiatan manajemen bencana dibagi dalam tiga kegiatan utama, yaitu: (1)kegiatan pra-bencana; (2) kegiatan saat terjadi bencana; (3) kegiatan pasca bencana, yang mencangkup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian yang mengancam dan mengganngu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disesbabkan, baik faktor alam dan faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana berdasarkan sumbernya dibagi menjadi tiga, yaitu; bencana alam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa / serangkaian peristiwa oleh alam, bencana non alam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa / serangkaian peristiwa non alam, bencana sosial, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa / serangkaian peristiwa oleh manusia. Bencana alam juga dapat dikelompokkan sebagai berikut; bencana alam meteorologi berhubungan dengan iklim. Umumnya tidak terjadi pada satu tempat yang khusus dan bencana alam geologo adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti gempa bumi, tsunami, dan longsor.
Penyebab bencana alam di Indonesia yaitu posisi geografis yang diapit oleh dua samudra besar, posisi geologis Indonesia pada tiga lempeng utama dunia (Indo-Australia, Eurasia, Pasifik), dan kondisi permukaan wilayah Indonesia yang sangat beragam. Sehingga diperlukan pencegahan bbencana atau mitigasi bencana. Mitigasi bencana adalah seangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melaluia pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Tujuan mitigasi bencana yaitu; mengurangi dampak yang ditimbulkan, sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan pembanngunan, meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadap serta mengurangi dampak/risiko bencana, sehingga masyarakatdapat hidup dan bekerja dengan aman.
Beberapa kegiatan mitigasi bencana di antaranya, yaitu: pengenalan dan pemantauan risiko bencana; perencanaan partisipatif penganggulangan bencana; pengembangan budaya sadar bencana; penerapan fisik, nonfisik, dan pengaturan penanggulan bencana; pemantauan terhadap pengelolaan sumber daya alam; pemantauan terhadap penggunaan teknologi tinggi; pengawasan terhadap pelaksanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup. Ada beberapa contoh mitigasi bencana misalnya, mitigasi bencana tsunmai, mitigasi bencana gunung berapi, mitigasi bencana gempa bumi, mitigasi bencana banjir.
Mitigasi bencana tsunami adalah sistem untuk mendeteksi tsunami dan memberi peringatan untuk mencegah jatuhnya korban. Ada dua jenis sistem peringatan dini tsunami, yaitu: sistem peringatan tsunami internasional dan sistem peringatan tsunami regional. Dalam upaya penanggulangan mitigasi bencana gunung berapi dilakukan pemantauan aktivitasngunung api. Data hasil pemantauan di kirim ke Derektorat Vulkanologi dan mitigasi bencana geologi di Bandung dengan radio komunikasi SSB; tanggap darurat, pemetaan peta kawasan rawan bencana gunung berapi dapat menjelaskan jenis dan sifat bahaya, daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri, pengungsian, dan pos penanggulangan bencana gunung berapi; penyelidikan gunung berapi menggunakan geologi, geofisika, dan geokimia; sosialisasi yang dilakukan pada pemerintah daerah dan masyarakat.
Upaya mitigasi gempa bumi terbagai menjadi beberapa tahapan, meliputi: (1) sebelum gempa, mendirikan bangunan sesuai aturan baku; kenali lokasi bangunan tempat Anda tinggal; tempatkan perabotan pada tempat yang proposional; siapkan peralatan seperti, P3K, makanan instan; periksa penggunaan listrik dan gas; catat nomor telepon penting; kenali jalur evakuasi; ikuti kegiatan simulasi mitigasi bencana gempa. (2) saat gempa, tetap tenang; hindari sesuatu yang kemungkinan akan roboh; perhatikan tempat Anda berdiri, kemungkinan ada retakan tanah; turun dari kendaraan dan jauhi pantai. (3) setelah gempa, cepat keluar dari bangunan; periksa sekitar Anda, jika ada yang terluka lakukan pertolongan pertama; hindari bangunan yang berpotensi roboh.
Saat mitigasi bencana banjirhal yang harus dilakukan sebelim banjir, yaitu: penataan daerah aliran sungai; pembangunan sistem pemantauan dan peringatan banjir; tidak membangun bangunan di bantaran sungai; buang sampah di tempat sampah; pengerukan sungai; penghijauan hulu sungai. Saat terjadi banjir lakukan seperti matikan listrik, mengungsi ke daerah aman, jangan berjalan dekat saluran air, hubungi instansi yang berhubungan dengan penanggulangan bencana banjir. Setelah terjadi banjir bersihkan rumah yang terkana dampak banjir, siapkan air bersih untuk menghindari diare, waspada terhadap binatang berbisa atau penyebar penyakit yang mungkin ada, dan selalu waspada terhadap banjir susulan.
Tahap prabencana dapat dibagi menjadi kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan. Selanjutnya, pada tahap tanggap darurat adalah respon sesaat setelah terjadi bencana. Pada tahap pascabencana, manajemen yang digunakan adalah rehabilitasi dan rekontruksi. Tahap prabencana meliputi mitigasi dan kesiapsiagaan. Upaya tersebut sangat penting bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana sebagai persiapan menghadapi bencana. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan mengantisipasi bencana melalui pemgorganisasian. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan. Tahap pasca bencana meliputi usaha rehabilitasi dan rekontruksi sebagai upaya mengembalikan keadaan masyarakat pada situasi yang kondusif, sehat, dan layak sehingga masyarakat dapat hidup seperti sedia kala sebelum terjadi bencana, baik secara fisik dan psikologi.
Proses pembelajaran adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan sumber belajar (guru) dan antara sesama siswa. Pengertian interaksi mengandung unsur saling memberi dan menerima. Dalam setiap interaksi belajar mengajar ditandai sejumlah unsur yaitu tujuan yang hendak dicapai, siswa, guru, bahan pelajaran, metode dan penilaian. Proses pembelajaran mengandung unsur belajar dan mengajar. Belajar merupakan suatu proses perubahan sikap dan perubahan tingkah laku setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar, sedangkan mengajar berarti menciptakan situasi yang mampu memegang siswa untuk belajar.
Proses pembelajaran merupakan suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diorganisasi. Lingkungan ini di atur dan diawasi agar kegitan belajar terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menantang dan merangsang para siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan serta tujuan yang diharapkan.
Ilmu pengetahuan alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan yang dikaitkan dengan fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik. Pada hakekatnya IPA dipandang dari segi produk, proses dan dari segi pengembangan sikap. Artinya belajar IPA memilki dimensi proses, dimensi hasil (produk) dan dimensi pengembangan sikap ilmiah. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikan sebagai aspek penting kecakapan hidup.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang mempelajari tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam dan seisinya yang berdasarkan proses-proses ilmiah. Serta dalam pemerolehannya, pengetahuan tersebut memiliki nilai-nilai sikap para ilmuwan yang berdasarkan proses ilmiah. Terdapat tiga hakikat IPA yaitu IPA sebagai produk, IPA sebagai proses, dan IPA sebagai sikap. Berikut penjelasan mengenai masing-masing hakikat tersebut. (1) IPA sebagai produk, Ketika mempelajari IPA maka akan mempelajari mengenai fakta, konsep, dan teori yang ditemukan oleh para ahli. Seperti contohnya ketika siswa dan guru membahas mengenai magnet, cahaya, energi, kandungan gizi pada makanan dan pembahasan-pembahasan lainnya yang terdapat dalam mata pelajaran IPA. Fakta-fakta hanyalah merupakan bahan dasar dan harus diolah lagi sehingga membentuk gagasan yang berarti. Konsep adalah abstraksi dari kejadian-kejadian, benda-benda, atau gejala yang memiliki sifat tertentu atau lambang tertentu. Suatu konsep hendaknya memiliki nama. Kemudian, prinsip sains merupakan generalisasi tentang hubungan antara konsep-konsep sains. Hukum sains merupakan prinsip-prinsip yang kebenarannnya sudah diterima. Sedangkan, teori sains merupakan kerangka hubungan yang lebih luas antara fakta, konsep, prinsip, serta hukum, sehingga merupakan model atau gambaran yang dibuat oleh para ahli untuk menjelaskan gejala alam yang terjadi.
Kedua IPA sebagai proses, Dalam pengertian IPA sudah dijelaskan bahwa IPA merupakan ilmu yang mempelajari peristiwa alam beserta isinya yang dilakukan berdasarkan proses ilmiah, maka dalam proses belajar IPA, siswa tidak hanya diarahkan untuk memahami sesuatu, tetapi juga harus mau mengerjakan sesuatu atau berproses. Dalam setiap proses yang ada dalam pembelajaran IPA sangat erat kaitannya dengan keterampilan proses sains. Ketiga IPA sebagai sikap, Dengan demikian, IPA sebagai sikap bisa diartikan sebagai sikap yang dapat membantu untuk memecahkan masalah, dan bagaimana cara memandang alam terhadap suatu kebenaran yang harus dihargai dan terbuka terhadap pandangan kebenaran dari orang lain.Sikap-sikap seperti kreatif, kritis, bertanggung jawab, dan terbuka merupakan bagian dari sikap-sikap ilmiah yang harus ditanamkan siswa.
Sehingga siswa diharapkan mampu menenarapkan mitigasi bencana melalui literasi sains yang sudah ditingkatkan dengan pembelajaran berbasis mitigasi bencana pada pembelajaran IPA, agar pada saat terjadi bencena dapat mencegah setelah mengetahui mitigasi bencana melaui literasi sains berbasis mitigasi bencana.
KESIMPULAN
Kemampuan literasi sains siswa yang memperoleh pembelajaran berbasis mitigasi bencana pada pembelajaran IPA, sebagai kemampuan individu untuk dapat mengidentifikasi yang termasuk fakta sains, menggunakan metode penyelidikan yang sesuia untuk memperoleh bukti-bukti ilmiah yang dibutuhkan serta kemampuan untuk menganalisis dan menginterpretasikan bukti-bukti tersebut sehingga diperoleh kesimpulan yang berarti. Seperti kemampuan dalam menerapkan mengatasi bencana melalui mitigasi bencana yang dapat mengancam dan mengganngu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disesbabkan, baik faktor alam dan faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
DAFTAR PUSTAKA
Desi, N.A.S., Ani, R., & Murbangun, N. (2017). Pengaruh Pembelajaran Berbasis
Proyek Literasi Sains Siswa. Pancasakti Science Education Journal. 2 (2) 114-1.
Fitriani, K., Chaerul, R., & Dindin, N. (2017). Profil Literasi Sains Peserta Didik Pada
Konsep Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata Di Kabupaten Cianjur
Jawa Barat. Jurnal Wahana Pendidikan Fisika. 2 (1) 15-19.
Fuji, A.A., Chaerul, R., & Herni, Y.S. (2017). Profil Literasi Sains Peserta Didik
Terhadap Mitigasi Bencana Gunung Berapi Di Daerah Sukaratu Tasikmalaya.
Jurnal Wahana Pendidikan Fisika. 2 (2) 32-35.
Johar, M. (2015). Pembelajaran Mitigasi Bencana Berorientasi Kearifan Lokal pada
Pembelajaran IPA di Sekolah Menengah Kejuruhan. Jurnal Kajian Pendidikan. 5
(2).
Setyo, E. A., & Wahyu, K. (2019). Keefektifan Bahan Ajar Tematik Bervisi Science
Environment Technology and Society Dalam Meningkatkan Penguasaan Konsep
Mitigasi Bencana. Pancasakti Science Education Journal. 4 (1) 46-54.
Tirto, A., Chaerul, R., & Dindin, N. Profil Literasi Konsep Fisika Peserta Didik Pada
Mitigasi Bencana Hujan ES Antapani.
Komentar
Posting Komentar